Selasa, 05 Juni 2012

LAPORAN HASIL OBSERVASI EVALUASI INOVASI MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SISWA KELAS X SEMESTER 2 SMA NEGERI 97 JAKARTA


BAB I
PENDAHULUAN

Profil sekolah
Nama Sekolah             : SMA Negeri 97 Jakarta
Alamat                                    : Jalan Brigif No. 2 Ciganjur Jakarta Selatan DKI Jakarta
Kepala Sekolah           : Dra. Nuzul Inayah, MM.
Mata Pelajaran            : Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Guru Mata Pelajaran   : Adi Supriadi, S.Pd

A.    Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada jenjang SMA/MA mencakup Mengaktifkan dan menghidupkan komputer sesuai dengan prosedur, Menggunakan beberapa perangkat lunak, Mendeskripsikan fungsi, proses kerja komputer, dan telekomunikasi serta berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi, Menjelaskan fungsi dan cara kerja jaringan komunikasi (wireline, wireless, modem, dan satelit), Menerapakan aturan yang berkaitan dengan etika dan moral terhadap perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi dan komunikasi, dan Menghargai pentingnya Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dalam teknologi informasi dan komunikas.
Salah satu standar kompetensi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di tingkat SMA/MA adalah mampu Melakukan operasi dasar komputer dengan menggunakan seperangkat komputer dan buku pegangan siswa (1) penerbit Erlangga Karya Sadima, S.Pd.
Standar kompetensi tersebut berperan sebagai tujuan yang harus dicapai oleh siswa kelas X SMA/MA pada semester 2 SMA Negeri 97 Jakarta. Dalam proses belajar mengajar, upaya mencapai tujuan tersebut melibatkan komponen- komponen pembelajaran, yaitu isi/materi, metode, media dan evaluasi. Masing-masing komponen tersebut saling terkait dan saling mempengaruhi
satu sama lain.
Pendekatan dan Model pembelajaran sebagai salah satu komponen pembelajaran memiliki peranan dalam upaya pencapain tujuan pembelajaran. Penggunaan pendekatan pembelajaran dapat membantu guru mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan dan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat akan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan dan siswa cenderung aktif.
Materi tentang operasi dasar komputer adalah materi yang besifat aplikatif, dan pencapaian kompetensi siswa lebih banyak bersifat keterampilan, dalam proses pembelajaran materi operasi dasar komputer harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang mampu menunjang proses pembelajaran yang efektif dan membuat siswa tidak hanya mengerti teori saja tetapi bisa mempraktekan bahkan menggunakannnya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi, penggunaan pendekatan kontekstual diharapkan dapat membantu dalam proses pencapaian kompetensi siswa yang bersifat keterampilan mengoprasikan beberapa perangkat lunak beberapa program aplikasi, dalam pendekatan pembelajaran kontekstual tidak hanya mencakup aspek kognitif saja tetapi mencakup seluruh aspek hasil belajar yaitu, kognitif, afektif dan psikomotor dan membuat pembelajaran lebih bermakna dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan kehidupan nyata yang dialami siswa dan mendorong siswa untuk dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dikatakan Nurhadi  (Rusman , 2008:170) tentang pembelajaran kontekstual.
Pendekatan kontekstual  (contekstual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat.
Dalam pembelajaran kontekstual ada delapan komponen pokok yang membangun pendekatan pembelajaran tersebut yang meliputi : making meaningful connections, doing significan work, self-regulated learning, collaborating, critical and creative thinking, nurturing the individual,reaching high standar, using authentic assessment. Johnson B. Eline
(Rusman, 2008 : 174). Komponen-komponen tersebut dapat menunjang pembelajaran khususnya pembelajaran TIK pada pokok bahasan operasi dasar komputer yang bersifat aplikatif dan sangat berhubungan erat dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan siswa, dengan pembelajaran kontekstual siswa akan lebih mudah memahami materi yang diberikan oleh guru dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan pendekatan pembelajaran kontekstual untuk pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat tepat karena sesuai dengan karakteristik pembelajaran TIK yang tercantum dalam panduan pengembangan silabus Teknologi Informasi dan Komunikasi yaitu :
a.       Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer meliputi perangkat keras dan perangkat lunak. Namun demikian Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak sekedar terampil, tetapi lebih memerlukan kemampuan intelektual.
b.      Materi Teknologi Informasi dan Komunikasi berupa tema-tema esensial, aktual serta global yang berkembang dalam kemajuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan pelajaran yang dapat mewarnai perkembangan perilaku dalam kehidupan.
c.       Tema-tema esensial dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer, Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika dan Informatika itu sendiri. Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21 seperti pengolah kata,spreadsheet, presentasi, basis data, Internet dan e- mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
d.      Materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pengamatan Peneliti selama melaksanakan observasi di SMA Negeri 97 Jakarta masih banyak guru yang menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional, penyampaian materi hanya dengan ceramah dan partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat kurang sehingga siswa cenderung pasif, begitu juga dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi guru hanya menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional dan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran sehingga materi yang disampaikan kurang bisa dipahami oleh siswa. Tidak adanya kesempatan siswa untuk membangun dan mengembangkan pengetahuannya karena penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang inovatif menjadikan siswa kurang paham terhadap hasil belajar yang harus mereka capai dan materi yang mereka pelajari.
Seringnya menggunakan metode ceramah, berarti tipe hasil belajar kognitif lebih dominan jika dibandingkan dengan ranah psikomotor dan afektif. Sedangkan ranah psikomotor dan afektif juga memiliki nilai yang sangat berarti bagi kehidupan siswa. Oleh karena itu, diharapkan dari suatu kegiatan belajar mengajar mendapatkan hasil belajar yang mencakup ranah kognitif,afektif,dan psikomotor.
Penggunaan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan dapat Meningkatkan hasil belajar siswa aspek psikomotor karena dalam pendekatan pembelajaran kontekstual terdapat komponen-komponen yang sesuai dengan karakteristik Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi. Pengalaman belajar yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari memudahkan siswa dalam mengaplikasikan keterampilan komputer yang telah mereka pelajari. Sehingga aspek psikomotor yang diharapkan muncul dari siswa akan benar-benar mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa penelitian yang relevan tentang keefektifan penggunaan pembelajaran kontekstual dengan mengacu kepada hasil-hasil yang telah teruji secara empirik diantaranya, Permasih  (2005) dalam tesisnya : Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Dasar  (Studi Kaji Tindak Penerapan Pembelajaran Kontekstual Topik Pengangkutan dan Komunikasi dalam Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa Kelas V SDPN UPI ). Mengatakan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran kontekstual terhadap kualitas pembelajaran IPS. Pipin Pitriah  (2003) dalam skripsinya : Upaya peningkatan kualitas pembelajaran Sains Biologi dalam KBK melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Contekstual Teaching and Learning ).  (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas 1 SLTP Negeri 21 Bandung ). Mengatakan bahwa Adanya peningkatan kualitas belajar Sains 7 biologi dalam KBK dengan menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual. Irfan  (2010) dalam skripsinya : Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah kontekstual terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Mengatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah kontekstual efektif digunakan pada mata pelajaran TIK di SMA.
Penelitian tentang pendekatan pembelajaran kontekstual sudah banyak dilakukan seperti uraian diatas, dari beberapa penelitian pendekatan pembelajaran kontekstual yang pernah dilakukan sebagian besar peneliti hanya membahas implementasi pembelajaran kontekstual dari mulai perencanaan sampai tahap pelaksanaan dan sedikit membahas tentang pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar yang meliputi tiga ranah, kognitf ,afektif dan psikomotor. Pembahasan tentang pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar siswa sebagian besar hanya terbatas pada aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan psikomotor belum dibahas secara lebih fokus. Bertolak dari pembahasan tersebut dan rekomendasi dari peneliti terdahulu tentang perlunya diadakan penelitian pendekatan pembelajaran kontekstual lebih fokus lagi dan dalam mata pelajaran yang lain maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pendekatan pembelajaran kontekstual
Berdasarkan semua pernyataan diatas, maka model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi termasuk dalam suatu inovasi metode pembelaran yang perlu dikembangkan dan didifusikan kepada para guru sehingga proses pembelajaran tidak monoton dan menjenuhkan karena didominasi dengan metode ceramah.

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas maka permasalahan yang kami kaji adalah apakah model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas X semester 2 SMA Negeri Jakarta termasuk inovasi metode pembelajaran yang dapat didifusikan ?

C.    Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah inovasi model pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas X semester 2 SMA Negeri Jakarta dapat didifusikan.












BAB II
KAJIAN TEORI


A.    Konsep Dasar dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005). Pembelajaran kompetensi merupakan suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik (menyeluruh), terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait, apabila dilaksanakan masing-masing memberikan dampak sesuai dengan peranannya (Sukmadinata, 2004).
Paparan pengertian pembelajaran kontektual di atas dapat diperjelas sebagai berikut: Pertama, pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar beroeantasikan pada prose pengalam secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, pembelajaran kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Hal ini akan memperkuat dugaan bahwa materi yang  telah dipelajari akan tetap tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan
Ketiga, pembelajaran kompetensi mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran kompetensi tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran di sini bukan ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan nyata
Berdasarkan pengertian pembelajaran kontekstual, terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran kontekstual yaitu:
1.      Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2.      Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru, yang diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan cara mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
3.      Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4.      Memperaktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5.      Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

B. Pendekatan dan Prinsip Pembelajaran Konstektual
1. Pendekatan pembelajaran kontekstual
Banyak pendekatan yang kita kenal dan digunakan dalam pembelajaran dan tiap-tiap pendekatan memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi fokus dan mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan  pembelajaran yang berfokus pada siswa, kemampuan berfikir, aktivitas, pengalaman siswa, berfokus pada guru, berfokus pada masalah (personal, lingkungan, sosial), berfokus pada teknologi seperti sistem instruksional, media dan sumber belajar.
Berkenaan dengan aspek kehidupan dan lingkungan, maka pendekatan pembelajaran ada keterlibatan pada siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian, serta konteks kehidupan dan lingkungan. Pembelajaran dengan fokus-fokus tersebut  secara konprehensif tercantum dalam pembelajaran kontekstual.
Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang berkembang. Anak bukanlah orang dewasa kecil, melainkan organisme yang sedang berada pada tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru tidak lagi sebagai instruktur atau penguasa yang memaksakan kehendak, melainkan sebagai pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan kemampuannya.
Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang bersifat aneh dan baru. Oleh karena itu, belajar bagi mereka mencoba memecahkan persoalan yang menantang. Guru berperan sebagai pemilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh anak. Guru membantu agar setiap siswa mampu mengaitkan antara pengalaman baru dengan sebelumnya, memfasilitasi atau mempermudah agar siswa mampu melakukan proses asimilasi dan akomodasi.
Dengan demikian, pendekatan pembelajaran CTL menekankan pada aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental. CTL memandang bahwa belajar bukanlah kegiatan menghafal, mengingat fakta-fakta, mendemonstrasikan latihan secara berulangulang akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Dalam pembelajaran CTL, belajar di alam terbuka merupakan tempat untuk memperoleh informasi sehingga menguji data hasil temuannya dari lapangan tadi baru dikaji di kelas. Sebagai materi pelajaran siswa menemukan sendiri, bukan hasil pemberian apalagi dialas oleh guru.

2. Prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual
Elaine B. Jhonson (2002), mengklaim bahwa dalam pembelajaran kontektual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering digunakan, yaitu: saling ketergantungan (interdepence), diferensiasi (differetiation), dan pengorganisasian (self organization).
Pertama, prinsip saling ketergantungan (interdependence), menurut hasil kajian para ilmuwan segala yang ada di dunia ini adalah saling berhubungan dan tergantung. Segala yang ada baik manusia maupun mahluk hidup lainnya selalu saling berhubungan satu sama lainnnya membentuk pola dan jaring sistem hubungan yang kokoh dan teratur.
Begitu pula dalam pendidikan dan pembelajaran, sekolah merupakan suatu sistem kehidupan, yang terkait dalam kehidupan di rumah, di tempat bekerja, di masyarakat. Dalam kehidupan di sekolah siswa saling berhubungan dan tergantung dengan guru, kepala sekolah, tata usaha, orang tua siswa, dan nara sumber yang ada di sekitarnya. Dalam proses pembelajaran siswa, berhubungan dengan bahan ajar, sumber belajar, media, sarana prasarana belajar, iklim sekolah dan lingkungan.  Saling berhubungan ini bukan hanya sebatas pada memberikan dukungan, kemudahan, akan tetapi juga memberi makna tersendiri, sebab makna ada jika ada hubungan yang berarti. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang
menekankan hubungan antara bahan pelajaran dengan bahan lainnya, antara teori dengan praktek, antara bahan yang bersifat konsep dengan penerapan dalam kehidupan nyata.
Kedua, prinsip diferensiasi (differentiation) yang menunjukkan kepada sifat alam
yang secara terus menerus menimbulkan perbedaan, keseragaman, keunikan. Alam tidak
pernah mengulang dirinya tetapi keberadaannya selalu berbeda. Prinsip diferensiasi menunjukan kreativitas yang luiar biasa dari alam semesta. Jika dari pandangan agama, kreativitas luar biasa tersebut bukan alam semestanya tetapi penciptaNya. Diferensiasi bukan hanya menunjukkan perubahan dan kemajuan tanpa batas, akan tetapi juga kesatuan-kesatuan yang berbeda tersebut berhubungan, saling tergantung dalam keterpaduan yang bersifat simbiosis atau saling menguntungkan.  Apabila para pendidik memiliki keyakinan yang sama dengan para ilmuwan modern bahwa prinsip diferensiasi yang dinamis ini bukan hanya berlaku dan berpengaruh pada alam semesta, tetapi juga pada sistem pendidikan. Para pendidik juga dituntut untuk mendidik, mengajar, melatih, membimbing sejalan dengan prinsip diferensiasi dan harmoni alam semesta ini. Proses pendidikan dan pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan menekankan kreativitas, keunikan, variasi dan kolaborasi. Konsep-konsep tersebut bisa dilaksanakan dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual berpusat pada siswa, menekankan aktivitas dan kreativitas siswa. Siswa berkolaborasi  dengan teman-temannya untuk melakukan pengamatan, menghimpun dan mencatat fakta dan informasi, menemukan prinsip-prinsip dan pemecahan masalah.
Prinsip pengorganisasian diri (self organization), setiap individu atau kesatuan dalam alam semesta mempunyai potensi yang melekat, yaitu kesadaran sebagai kesatuan utuh yang berbeda dari yang lain. Tiap hal memiliki organisasi diri, keteraturan diri, kesadaran diri, pemeliharaan diri sendiri, suatu energi atau kekuatan hidup, yang memungkinkan mempertahankan dirinya secara khas, berbeda dengan yang lainnya.
Prinsip organisasi diri, menuntut para pendidik dan para pengajar di sekolah agar mendorong tiap siswanya untuk memahami dan merealisasikan semua potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Pembelajaran kontekstual diarahkan untuk membantu para siswa mecapai keunggulan akademik, penguasaan keterampilan standar, pengembangan sikap dan moral sesuai dengan harapan masyarakat.

C. Asas-Asas dalam Pembelajaran Kontekstual
Asas-asas sering juga disebut komponen-komponen pembelajaran kontekstual melandasi pelaksanaan proses pembelajaran kontekstual yang memiliki tujuh asas meliputi: 1) Kontruktivisme, 2) Inkuiri, 3) Bertanya, 4) Masyarakat belajar, 5) Pemodelan, 6) Refleksi, dan 7) Penilaian nyata.
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Jean Piaget (Sanjaya,2005) menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Kontruktivisme memandang bahwa pengetahuan itu berasal dari luar akan tetapi dikontruksi dari dalam diri seseorang. Karena itu pengetahuan terbentuk oleh objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasi objek tersebut. Lebih jauh Piaget menyatakan hakikat pengetahuan adalah: 1) pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia nyata, akan tetapi merupakan kontruksi kenyataan melalui kegiatan subjek, 2) Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan  struktur yang perlu untuk pengetahuan, 3) Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang, struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam behadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.
2. Inkuiri
Asas Inkuiri merupakan proses pembelajaran berdasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Tindakan guru bukanlah untuk mempersiapkan anak untuk menghafalkan sejumlah materi akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis, akan tetapi perkembangan diarahkan pada intelektual, mental emosional, dan kemampuan individu yang utuh.
Dalam model inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah sistimatis, yaitu: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengajukan hipotesis, 3) Mengumpulkan data, 4) Menguji hipotesis berdasarkan data yang dikumpulkan, dan 5) Membuat kesimpulan. Penerapan model inkuiri ini dapat dilakukan dalam proses pembelajaran kontekstual, dimulai atas kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa didorong untuk menemukan masalah. Apabila masalah ini telah dipahami dengan jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan jawaban sementara (hipotesis). Hipotesis itulah akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam mengumpulkan data. Bila data terkumpul maka dituntut untuk menguji hipotesis sebagai dasar untuk merumuskan  kesimpulan. Asas menemukan itulah merupakan  asas penting dalam pembelajaran konstektual.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keinginantahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran kontekstual, guru tidak banyak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi berusaha memancing agar siswa menemukan sndiri. Oleh karena itu, melalui pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.
Kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk: 1) Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran, 2) Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, 3) Merangsang keinginantahuan siswa terhadap sesuatu, 4) Memfokuskan
siswa pada sesuatu yang diinginkan dan 5) Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sendiri.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (team work). Kerjasama itu
dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar yang dibentuk secara formal maupun dalam lingkungan secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh secara sharingdengan orang lain, antar teman, antar kelompok berbagi pengalaman pada orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.
Dalam kelas pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat belajar dapat
dilakukan melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat hetrogen, baik dilihat kemampuannya maupun kecepatan belajar, minat dan bakatnya. Dalam kelompok mereka saling membelajarkan, jika perlu guru dapat mendatangkan seseorang yang memiliki keahlian khusus untuk membelajarkan siswa tersebut, misalkan dokter yang berbicara tentang kesehatan dll.
5. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Guru biologi  memberikan contoh bagaimana cara mengoprasikan termometer, begitupun guru olahraga memberikan contoh model bagaimana cara bermain sepak bola, bagaimana guru kesenian memainkan alat musik. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang memiliki kemampuan, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Di sini modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang mengundang terjadinya verbalisme.
6. Refleksi (Reflection)
            Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbaharui pengetahuan yang telah dibentuknya atau menambah khazanah pengetahuannya.
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenung atau mengingat kembali apa yang telah di pelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga siswa tersebut dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
7.      Penilaian Nyata (Authentik Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi
tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung
dan meliputi seluruh aspek domain penilaian. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

D.    Teknologi Informasi dan komunikasi
TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) atau yang lebih dikenal dalam dunia global sebagai Information and Communcation Technologies (ICT), adalah istilah majemuk yang terdiri dari dua aspek, yaitu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi adalah segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi, adalah sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat Bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke yang lainnya. Jadi, dengan definisi tersebut, dapat dipahami oleh semua orang bahwa TIK tidak terbatas pada pemanfaatan computer dan internet saja, tetapi apapun yang berkaitan dengan proses, manipulasi, pengelolaan dan mengkomunikasikan sesuatu dari perangkat yang satu ke yang lainnya juga disebut TIK. Produk TIK sangan banyak jenisnya, bisa berbentuk internet, radio, televisi, video, conference class, e-learning, e-book, edu software / games, alat peraga, dll.

E.     Konsep Dasar Teknologi Inormasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang re levan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
 Dalam materi pembekalan Dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi  ada 3 (tiga) konsep yang harus dipahami dengan benar sehingga dalam prakteknya tidak terjadi kekeliruan. Ketiga konsep tersebut adalah sebagai berikut:
1. Konsep Teknologi
Dalam konsep teknologi ini ada 3 bentuk yang bisa dipahami, yaitu :
a.       Teknologi sebagai Ide, yaitu teknologi yang ada dalam pikiran dalam bentuk ide-ide ketika memikirkan, merasakan akan melakukan sesuatu.
b.      Teknologi sebagai Proses Rancang Bangun, yaitu teknologi yang terlihat ketika kita melakukan atau mengerjakan sesuatu proses yang dipikirkan sebelumnya.
c.       Teknologi sebagai Produk Rancang Bangun, yaitu teknologi sebagai hasil dari proses pengerjaan sesuatu, bisanya dalam bentuk alat, benda-benda tertentu, prosedur-prosedur terntentu, atau biasanya dikelompokan menjadi perangkat keras dan perangkat lunak.
2. Konsep Informasi.
Informasi adalah sekumpulan atau serangkaian data yang telah mengalami pengolahan dan memiliki arti serta siap untuk dipakai, misalnya untuk pengambilan keputusan atau untuk menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
3. Konsep Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan, baik yang dilakukan oleh satu orang, atau antara satu seseorang dengan orang lain dengan menggunakan media atau tanpa menggunakan media.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang re levan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas di segala bidang kegiatan.
           
























BAB III
HASIL PENELITIAN

A.    Penjabaran Berdasarkan Karakteristik Inovasi
1.      Keunggulan relatif (relative advantage) :
Derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise social, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.
Model pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran TIK kelas X semester 1 memberikan suatu keuntungan dan manfaat karena model pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menerapkannya.
2.      Kesesuaian (compatibility) :
Derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).
Adopter juga mempertimbangakan pembelajaran kontekstual berdasarkan kompatibilitasnya pada nilai-nilai, pengalaman, dan kebutuhannya. Bagi siswa, belajar dengan mengaitkan pengalamannya akan mempermudah proses ketercapaian informasi dan membuatnya mudah memahami pelajaran. Jika siswa telah mendapatkan pengalaman sebelumnya akan membuatnya mudah untuk mengadopsi apa yang diberikan oleh guru.
Selain itu, mata pelajaran TIK merupakan salah satu mata pelajaran wajib sekarang ini. Melihat kebutuhan dan perkembangan zaman terhadap computer, memberikan suatu pandangan kepada para siswa bahawa mempelajari TIK adalah suatu kebutuhan.
3.      Kerumitan (complexity) :
Derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Model pembelajaran kontekstual ini mempunyai beberapa kerumitan dan menerapkannya, diantaranya : Diperlukan waktu yang cukup lama saat proses pembelajaran Kontekstual berlangsung, Jika guru tidak dapat mengendalikan kelas maka dapat menciptakan situasi kelas yang kurang kondusif,  Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL,  guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa, dan   Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar.
4.      Kemampuan diujicobakan (triability) :
Derajat dimana suatu inovasi dapat diuji coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.
            Dalam prakteknya model pembelajaran kontekstual memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi siswa dalam menerepakan hasil belajaranya dalam kehidupan sehari-sehari sehingga model pembelajaran kontekstual ini dianggap sebagai referensi dalam mengembangkan kemampuan siswa yang menerapkan hasil belajarnya di kehidupan sehari-hari. Oleh Karena itu model pembelajaran kontekstual mudah didifusikannya.
5.      Kemampuan diamati (observability) :
Derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.
Adopter akan mengamati apakah dengan mengikuti pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran TIK akan meningkatkan hasil belajar siswa atau tidak. Jika iya, maka  metode ini dianggap suatu inovasi yang dapat segera diterima oleh masyrakat dengan cepat.

B.     Penjabaran Berdasarkan Proses Difusi Inovasi
1.      Inovasi itu sendiri
Everett M. Rogers (1983), Mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan  individu yang menerimanya.
Inovasi yang diberikan dalam hal ini adalah model pembelajaran kontekstual dimana konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubun gan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
2.      Saluran komunikasi
Saluran komunikasi, adalah alat untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien. adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
Dalam penyebaran inovasi model pembelajaran kontekstual saluran komunikasi yang digunakan adalah secara interpersonal karena dapat mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal. Artinya seorang agen perubahan akan mendatangkan langsung kepada calon adopternya (guru), menawarkan langsung sebuah inovasi secara interpersonal dengan cara mendemonstrasikan inovasi yang mau ditawarkan dengan penuh keyakinan dan percaya diri dengan maksud calon adopter tertarik sehingga akan mengadopsinya.

3.      Waktu
Waktu, yakni proses keputusan inovasi dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya. Pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam (a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b) keinovatifan seseorang (relatif lebih awal atau lebih lambat dalam menerima inovasi), dan (c) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.
            Jika dilihat dari lingkungan sekolah, antusiasme guru dalam mengajar dan keaktifan siswanya maka proses pendifusian inovasi tentang model pembelajaran kontekstual akan membutuhkan waktu yang relatif singkat. Sehingga inovasi tersebut dapat diadopsi dengan baik oleh adopter
4.      Sistem sosial
Sistem sosial merupakan kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama. Beberapa hal yang dikelompokan sebagai bagian atau unit dalam sistem sosial kemasyarakatan antara lain meliputi : individu anggota masyarakat, tokoh masyarakat, pemimpin formal, kiai, kelompok tertentu dalam masyarakat. Kesemuanya secara nyata, baik langsungg ataupun tak langsung mempengaruhi dalam proses difusi invasi yang dilakukan
Sistem sosial disini yang paling berpengaruh dalam proses pendifusian inovasi model pembelajaran kontekstual adalah sang kepala sekolah. Mengapa? Itu karena kepala sekolah adalah pemegang kendali dari sekolah tersebut dan keputusan sebagian besar ada ditangannya. Sehingga jika kepala sekolah tersebut memberikan izin kepada guru-guru secara bebas , karena sesungguhnya guru lah yang lebih tahu kondisi kelas dan anak murid bagaiman maka inovasi tersebut dapat dengan lancar proses pendifusiannya

C.    Penjabaran Berdasarkan Proses Pengambilan Keputussan Inovasi
1.      Tahap pengetahuan
Pada tahapan ini suatu individu belajar tentang keberadaan suatu inovasi dan mencari informasi tentang inovasi tersebut. Selama tahap ini individu akan menetapkan “apa inovasi itu ? bagaimana dan mengapa ia bekerja ?. Menurut Rogers (1983), pertanyaan ini akan membentuk tiga jenis pengetahuan (knowledge)
a.       Awareness-knowledge merupakan pengetahuan akan keberadaan suatu inovasi. Pengetahuan jenis ini akan memotivasi individu untuk belajar lebih banyak tentang inovasi dan kemudian akan mengadopsinya
b.      How-to-knowledge, yaitu pengetahuan tentang bagaimana cara menggunakan suatu inovasi dengan benar. Rogers memandang pengetahuan jenis ini sangat penting dalam proses keputusan inovasi
c.       Principles-knowledge, yaitu pengetahuan tentang prinsip-prinsip keberfungsian yang mendasari bagaimana dan mengapa suatu inovasi dapat bekerja. Suatu inovasi dapat diterapkan tanpa pengetahuan ini, akan tetapi penyalahgunaan suatu inovasi akan mengakibatkan berhentinya inovasi tersebut.
Pada tahap ini suatu inovasi (model pembelajaran kontekstual) adopter akan mencari informasi tentang apa itu model pembelajaran kontekstual dan bagaimana cara kerjanya dengan mencarinya dari berbagai sumber sehingga adopter menjadi jelas tentang inovasi yang ingin diketahuinya.
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Kontekstual, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen Kontekstual tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Langkah pertama, mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus dimilikinya.
b.      Langkah kedua, melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
c.       Langkah ketiga, mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
d.      Langkah keempat, menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab, dan sebagainya.
e.       Langkah kelima, menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.
f.       Langkah keenam, membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
g.      Langkah ketujuh, melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa
2.      Tahap persuasi
Tahap persuasi terjadi ketika individu memiliki sikap positif atau negatif terhadap inovasi. Tetapi sikap ini tidak secara langsung akan menyebabkan apakah individu tersebut akan menerima atau menolak suatu inovasi. Suatu individu akan membentuk sikap ini setelah dia tahu tentang inovasi, maka tahap ini berlangsung setelah knowledge stage dalam proses keputusan inovasi. Rogers menyatakan bahwa  knowledge stage lebih bersifat kognitif (tentang pengetahuan), sedangkan persuasion stage bersifat afektif karena menyangkut perasaan individu, karena itu pada tahap ini individu akan terlibat lebih jauh lagi. Tingkat ketidakyakinan pada fungsi-fungsi inovasi dan dukungan sosial akan mempengaruhi pendapat dan kepercayaan individu terhadap inovasi.
Pada tahap ini seorang individu atau kelompok akan mengambil sikap terhadap suatu inovasi, inovasi disini adalah model pembelajaran kontekstual. Sikap tersebut adalah apakah menyukainya atau tidak, akan tetapi dalam tahap ini belum sampai pengambilan keputusan. Artinya seorang agent of change akan memberikan pemahaman lebih mengenai konsep model pembelajran kontekstual sehingga adopter dapat menyikapinya dengan senang atau tidak terhadap inovasi tersebut, tetapi belum sampai mengambil sebuah keputusan.
3.      Tahap keputusan
Pada tahapan ini individu membuat keputusan apakah menerima atau menolak suatu inovasi. Menurut Rogers adoption (menerima) berarti bahwa inovasi tersebut akan digunakan secara penuh, sedangkan menolak berarti “not to adopt an innovation”. Jika inovasi dapat dicobakan secara parsial, umpamanya pada keadaan suatu individu, maka inovasi ini akan lebih cepat diterima karena biasanya individu tersebut pertama-tama ingin mencoba dulu inovasi tersebut pada keadaannya dan setelah itu memutuskan untuk menerima inovasi tersebut. Walaupun begitu, penolakan inovasi dapat saja terjadi pada setiap proses keputusan inovasi ini. Rogers menyatakan ada dua jenis penolakan, yaitu Active rejection dan passive rejection.
Active rejection terjadi ketika suatu individu mencoba inovasi dan berfikir akan mengadopsi inovasi tersebut namun pada akhirnya dia menolak inovasi tersebut.  passive rejection individu tersebut sama sekali tidak berfikir untuk mengadopsi inovasi.
            Artinya dalam tahap ini seorang adopter (guru) akan mengambil sebuah keputusan, apakah akan menggunakan inovasi tersebut (model pembelajaran kontekstual) atau tidak. Jika sebelumnya guru tersebut pernah menggunakan atau mencoba sebelum maka kemungkinan besar guru tersebut akan mengadopsi inovasi tersebut karena sebelumnya sudah tahu keuntungan dan kelemahannya bagaimana, cocok atau tidaknya diterpakan di sekolahnya.
4.      Tahap implementasi
Pada tahap implementasi, sebuah inovasi dicoba untuk dipraktekkan, akan tetapi sebuah inovasi membawa sesuatu yang baru apabila tingkat ketidakpastiannya akan terlibat dalam difusi. Ketidakpastian dari hasil-hasil inovasi ini masih akan menjadi masalah pada tahapan ini. Maka si pengguna akan memerlukan bantuan teknis dari agen perubahan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dari akibatnya. Apalagi bahwa proses keputusan inovasi ini akan berakhir. Permasalahan penerapan inovasi akan lebih serius terjadi apabila yang mengadopsi inovasi itu adalah suatu organisasi, karena dalam sebuah inovasi jumlah individu yang terlibat dalam proses keputusan inovasi ini akan lebih banyak dan terdiri dari karakter yang berbeda-beda.
Pada tahap ini si guru akan menerapkan model pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran Teknologi Inforamasi dan Komunikasi. Akan tetapi karena ini adalah sebuah inovasi yang baru dalam metode pembelajaran maka akan timbul suatu ketidakpastian dari seorang guru. Ia masih merasakan adanya kekurangan atau kesulitan dalam menerapka inovasi tersebut. Maka dari itu seorang agent perubahan disini berperan untuk meyakinkan adopter agar rasa ketidakpastian tersebut berkurang. Itu bisa dengan cara mendemonstrasikannya cara memakai inovasi yang benar itu bagaimana.
5.      Tahap konfirmasi
Ketika keputusan inovasi sudah dibuat, maka si pengguna akan mencari dukungan atas keputusannya ini. Menurut Rogers keputusan ini dapat menjadi terbalik apabila si pengguna ini menyatakan ketidaksetujuan atas pesan-pesan tentang inovasi tersebut. Akan tetapi kebanyakan cenderung untuk menjauhkan diri dari hal-hal seperti ini dan berusaha mencari pesan-pesan yang mendukung yang memperkuat keputusan itu. Jadi dalam tahap ini, sikap menjadi hal yang lebih krusial.
Dalam tahap terakhir ini adopter (guru) akan mencari sebuah dukungan atau penguat untuk meyakinkan bahwa inovasi yang diadopsinya memang sudah tepat. Akan tetapi dalam tahap ini bisa menjadi sebuah penolakan terhadap inovasi jika dalam pencarian dukungan atau penguatnya berbanding terbalik dengan apa yang sudah diterapkan. Pencarian informasi tersebut bisa dengan cara menganalis kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran kontekstual dengan seksama.






























BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan di SMA Negeri Jakarta tentang inovasi model pembelajaran pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi siswa kelas X semester 2 dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran kontekstual sangat bagus untuk didifusikan ke mata pelajaran lain karena pembelajarannya menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
B.     Saran
1.      Bagi siswa
Siswa diharapkan dapat mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual dan dapat benar-benar memahamidan menggunakan pengetahuan  yang telah dimiliki dalam kehidupan sehari-hari dengan hakekat dasar dari pembelajaran kontekstual yaitu adanya hubungan-hubungan materi pelajaran dengan dunia nyata siswa.
2.      Bagi guru
Guru diharapkan dapat menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual ini sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa ranah psikomotor pada mata pelajaran TIK yang menuntut adanya keterampilan penggunaan komputer.










DAFTAR PUSTAKA



Everett M. Rogers. (1983). Diffusion of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc

Roger M & Shoemaker F. Floyd. (1971). Communication of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc.

Yulaelawati, Ella. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofis Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Pakar Raya Pustaka.